Sainsbury’s mengumumkan rencana memperluas penggunaan perangkat lunak pengawasan wajah toko ke lebih dari 150 gerai sebelum Natal setelah uji coba awal dinilai efektif dalam menekan kembali pelaku kejahatan berulang. Sistem bertenaga AI itu saat ini aktif di 55 lokasi dan dikembangkan bekerja sama dengan Facewatch.

Langkah ini muncul di tengah inisiatif yang lebih luas untuk menanggulangi kejahatan ritel di London, yang melibatkan pertemuan kepolisian, pemerintah daerah, dan peritel besar. Selain itu, ritel lain juga bergerak pada berbagai inovasi teknologi dan layanan konsumen, dari perluasan aplikasi self-scanning hingga penguatan program loyalitas.
Hasil uji coba dan mekanisme Facewatch
Menurut keterangan perusahaan, uji coba teknologi pengenalan wajah menunjukkan kemampuan mencegah kembalinya pelaku berulang; sekitar sembilan dari sepuluh orang yang sebelumnya tercatat tidak kembali ke toko yang menerapkan sistem tersebut. Mekanisme kerjanya melibatkan unggahan laporan perilaku buruk—seperti pencurian atau kekerasan—oleh peritel, lalu moderator meninjau rekaman CCTV dan menandai tersangka. Ketika seseorang yang terflag memasuki gerai peserta, Facewatch mengirimkan peringatan instan.
Sistem ini hadir dalam konteks perjanjian sektor ritel dan aparat penegak hukum: prioritas yang disepakati termasuk memperbaiki pertukaran bukti, mendukung proses peradilan pidana, serta memfokuskan penegakan pada pelaku berulang dan kelompok kejahatan terorganisir. Peritel diminta memastikan kualitas bukti seperti rekaman CCTV dan footage kamera tubuh, serta menunjuk titik kontak tunggal untuk mempercepat proses.
Reaksi dan kontroversi
Keberhasilan uji coba tidak lepas dari kontroversi. Pada awal tahun ini, seorang pria diminta meninggalkan sebuah gerai Sainsbury’s di Elephant and Castle tanpa penjelasan setelah staf diduga salah mengidentifikasi dia sebagai pelaku yang terflag oleh teknologi. Facewatch kemudian menyatakan bahwa tidak ada insiden atau peringatan terkait orang tersebut di databasenya, dan perusahaan ritel menyampaikan permintaan maaf.
Sainsbury’s menyampaikan pernyataan resmi terkait insiden itu: “We have been in contact with the man to sincerely apologise for his experience in our Elephant and Castle store. This was not an issue with the facial recognition technology in use but a case of the wrong person being approached in-store.” Mereka menambahkan bahwa tidak ada yang salah teridentifikasi oleh teknologi Facewatch dan kasus tersebut merupakan kali pertama seseorang salah didekati oleh manajer toko.
Konteks lebih luas: langkah ritel dan teknologi
Inisiatif pelacakan wajah Sainsbury’s berjalan seiring dengan berbagai perkembangan lain di sektor ritel. Contohnya, program self-scanning Lidl & Go diperluas ke 37 toko tambahan di Inggris setelah respons positif dari fase pilot, yang memungkinkan pelanggan memindai barang lewat ponsel dan mempercepat proses pembayaran. Louise Weise, Chief Customer Officer Lidl GB, mengatakan: “The early response from the initial phase of Lidl & Go has been really encouraging. Customers are telling us they value the control and visibility it gives them over their spend, and the flexibility to shop at their own pace. This next wave of stores brings the feature to many more customers, and we’ll continue to take on board feedback to evolve the offering as we go.”
Sementara itu, upaya kolaboratif kepolisian, kantor walikota, dan sekitar 20 organisasi ritel menekankan perlunya kerja sama yang lebih kuat untuk melindungi pusat perbelanjaan dan pegawai toko. Polisi sepakat memprioritaskan respons pada insiden kekerasan dan kasus yang berujung pada penahanan, serta meningkatkan komunikasi tentang perkembangan laporan kriminal.
Perubahan ini menjadi bagian dari percobaan ritel besar-besaran untuk menggabungkan teknologi dengan praktik keamanan dan layanan pelanggan. Meski teknologi menawarkan potensi pengurangan kerugian, insiden salah pendekatan mengingatkan pentingnya kontrol manusia, akurasi bukti, dan prosedur yang ketat agar perlindungan konsumen tetap terjaga.
Ke depan, ritel diperkirakan akan terus menguji kombinasi sistem otomatis dan intervensi manusia untuk menyeimbangkan efisiensi pengamanan dan hak-hak pelanggan, sambil bekerja lebih erat dengan penegak hukum untuk menindak pelaku kejahatan yang merugikan industri dan masyarakat.
